Rayakan 25 Tahun FBR, KH Lutfi Hakim Tegaskan Betawi Harus Tetap Jadi Jiwa Jakarta

3 minutes reading
Saturday, 1 Aug 2026 06:49 8 edy

JAKARTA, – Forum Betawi Rempug (FBR) menggelar peringatan Milad Perak atau hari jadi ke-25 di Pelataran Parkir Kemayoran, Jakarta. Acara tersebut dihadiri Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (Bang Doel), Fauzi Bowo Ex Gubernur DKI dan sejumlah tokoh masyarakat, Organisasi Masyarakat Islam Kei, serta seluruh koordinator wilayah (Korwil) FBR se-Jabodetabek.

Dalam sambutannya, Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim, MA mengatakan perjalanan FBR selama 25 tahun bukan dibangun di atas kemewahan, melainkan lahir dari kecintaan terhadap Betawi dan Jakarta.

“Kami ini kumpulan orang kampung, tetapi tidak kampungan. FBR lahir dari keyakinan bahwa masyarakat Betawi tidak boleh kehilangan martabatnya di tanah warisan para leluhur,” ujarnya.

Menurut Lutfi, selama seperempat abad FBR telah melewati berbagai dinamika. Organisasi tersebut pernah mendapat apresiasi, namun juga tak jarang disalahpahami. Meski demikian, semangat mencintai Jakarta dan menjaga budaya Betawi tidak pernah surut.

“Betawi bukan sekadar identitas. Betawi adalah cara pandang hidup, keramahan, penghormatan kepada ulama, kepedulian terhadap sesama, keberanian membela kebenaran, serta sikap terbuka kepada siapa pun tanpa memandang asal-usulnya,” katanya.

Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut membuat masyarakat Betawi mampu menjadi tuan rumah bagi seluruh elemen bangsa. Hal itu juga tercermin dalam keanggotaan FBR yang berasal dari berbagai latar belakang agama.

“Anggota FBR tidak hanya beragama Islam, tetapi berasal dari seluruh agama yang ada di Indonesia. Karena itu, kami selalu mengedepankan kebersamaan dan doa untuk keberkahan Jakarta,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Lutfi menyoroti transformasi Jakarta menuju kota global menjelang usia lima abad. Menurutnya, masyarakat Betawi tidak pernah menolak perubahan karena sejak awal lahir dari keberagaman dan keterbukaan.

Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan kota tidak boleh mengabaikan identitas budaya.

“Apa arti kota global apabila anak-anak kandungnya kehilangan rasa memiliki? Apa arti gedung-gedung yang menjulang tinggi jika akar kebudayaannya perlahan menghilang? Dan apa arti kemajuan ekonomi apabila budaya hanya dijadikan dekorasi dalam perayaan?” tuturnya.

Lutfi meyakini sebuah kota tidak hanya dibangun dengan beton dan infrastruktur, melainkan juga dengan sejarah, nilai, dan kebudayaan.

“Selama Jakarta masih berdiri, Betawi akan selalu menjadi jiwanya,” tegasnya.

Di hadapan Gubernur DKI Jakarta, Lutfi juga menyampaikan harapan agar amanat Undang-Undang tentang Pemajuan Kebudayaan diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Gubernur (Pergub) mengenai Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi.

Menurutnya, rancangan Pergub tersebut telah selesai disusun, termasuk kajian akademis, pembahasan, serta harmonisasi hukumnya.

“Pergub ini bukan sekadar regulasi di atas kertas. Ini adalah payung hukum untuk melindungi standar kebudayaan Betawi, menghidupkan para pengrajin, seniman, budayawan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi generasi muda Betawi melalui pelestarian dan pengembangan budaya,” jelasnya.

Lutfi mengaku prihatin karena hingga kini Pergub tersebut belum juga diterbitkan meski proses penyusunannya telah rampung sejak lebih dari satu tahun lalu.

“Sangat disayangkan, Pergub yang sudah lama dinantikan justru masih tertahan di meja birokrasi. Ironisnya, menurut kami, ada segelintir pihak yang mengaku sebagai tokoh Betawi justru menghambat proses tersebut. Ketika kita sedang berjuang menyelamatkan masa depan budaya Betawi, masih ada kepentingan pribadi yang mengalahkan kepentingan bersama,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan perjuangan FBR bukan untuk kepentingan organisasi semata.

“FBR tidak sedang mencari panggung. Kami sudah memiliki panggung sendiri. Perjuangan ini bukan untuk keuntungan kelompok atau organisasi tertentu. Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi adalah milik seluruh masyarakat Betawi. Yang kami perjuangkan adalah masa depan budaya dan kesejahteraan masyarakat Betawi secara keseluruhan,” pungkasnya.*

(NK)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA