TANGERANG,Siber77.com – Menjelang 2026, suasana tidak selalu diwarnai kegembiraan. Tahun belum benar-benar berganti, namun 2025 sudah terasa jauh di belakang, meninggalkan jejak yang tak semuanya ingin dikenang. Di momen inilah banyak orang berhenti sejenak, bukan untuk berpesta, melainkan untuk menimbang ulang perjalanan hidupnya.

Tahun 2025 mengajarkan satu hal penting: hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada harapan yang tertunda, ada rencana yang gugur di tengah jalan, dan ada perjuangan yang tidak pernah mendapat tepuk tangan.
Banyak orang menjalani tahun ini dalam diam—tetap bekerja, tetap berjuang, meski lelah sering kali datang tanpa aba-aba.
Menjelang pergantian tahun, tidak semua orang sibuk dengan resolusi baru. Sebagian justru belajar menerima bahwa bertahan saja sudah cukup. Bahwa bisa melewati satu tahun penuh tantangan tanpa menyerah adalah capaian yang sering kali luput disadari nilainya.
Di tengah narasi besar tentang pencapaian dan keberhasilan, ada cerita-cerita kecil yang jarang disorot. Tentang orang-orang yang bangun setiap pagi dengan kecemasan, namun tetap melangkah. Tentang mereka yang kehilangan, tetapi memilih tidak menyerah pada keadaan. Tahun ini mungkin tidak menghadirkan banyak kemenangan, namun mengajarkan ketabahan.
Menjelang 2026, harapan pun berubah menjadi lebih sederhana. Tidak lagi tentang perubahan besar dalam sekejap, melainkan tentang hidup yang lebih stabil, lebih tenang, dan lebih jujur. Harapan agar esok hari tidak selalu lebih mudah, tetapi setidaknya lebih bisa dijalani.
Pergantian tahun sejatinya bukan soal angka yang berubah, melainkan tentang kesadaran bahwa waktu terus berjalan, sementara manusia terus belajar menyesuaikan diri. Kita melangkah membawa pelajaran, luka yang belum sepenuhnya sembuh, serta doa-doa yang masih disimpan dengan hati-hati.
Akhirnya, menjelang 2026, mungkin yang paling penting bukan seberapa meriah perayaan yang digelar, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa kita telah berjuang sejauh ini. Bahwa bertahan, tetap melangkah, dan tidak menyerah di tengah keterbatasan, sudah cukup untuk disebut sebuah kemenangan.
Akhir tahun tak selalu bicara tentang euforia.
Kadang, ia hanya menjadi penanda bahwa kita masih berdiri—dan siap melanjutkan perjalanan dengan lebih jujur.
Jfr/HW
No Comments