SIBER77.COM TANGERANG SELATAN,
— Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) PCNU Kota Tangerang Selatan menggelar Bahtsul Masail Antar Pesantren dan MWCNU se-Kota Tangerang Selatan, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, di Pondok Pesantren Omah Singgah, Pondok Aren, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan ini dihadiri Rais Syuriyah PCNU Kota Tangerang Selatan KH. Himam Muzzahir, Ketua PCNU Tangsel KH. Abdullah Mas’ud, Sekretaris PCNU Tangsel Gus Fikri Hakim, M.A., serta para mushahih, yakni Dr. KH. Nurul Irfan, Dr. Khoirul Mustaghfirin, dan Dr. Fatihunnada, bersama para perumus LBMNU, pengasuh pesantren, dan peserta Bahtsul Masail.
Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan, KH. Abdullah Mas’ud, menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan salah satu kekuatan intelektual Nahdlatul Ulama yang harus terus dikembangkan agar mampu menjawab persoalan masyarakat yang semakin kompleks.
“Santri hari ini tidak cukup hanya pandai membaca kitab, tetapi juga harus mampu membaca zaman. Kedalaman ilmu dan kekuatan sanad harus bertemu dengan kepekaan sosial, sehingga fikih benar-benar hadir memberikan jawaban atas persoalan kehidupan,” tegasnya.
Menurut Abdullah, tradisi Bahtsul Masail tidak boleh berhenti sebagai forum perdebatan dalil dan perumusan hukum. Forum tersebut harus menjadi jembatan antara khazanah keilmuan pesantren dan kebutuhan nyata masyarakat.
Ia mengapresiasi dua persoalan yang menjadi fokus pembahasan, yaitu Masail waqiiyah tentang dilema sisa makanan dan Masail qonuniyah tentang problematika peraturan daerah tentang pengelolaan sampah.
Menurutnya, kedua isu tersebut sangat relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat perkotaan, termasuk di Tangerang Selatan.
“Persoalan sisa makanan bukan sekadar urusan konsumsi, tetapi juga menyangkut pemborosan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap sumber daya. Demikian pula sampah, bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi berkaitan dengan kesehatan, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan,” ungkapnya.
Abdullah berharap hasil Bahtsul Masail tidak hanya melahirkan rumusan hukum yang kuat secara metodologis, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi panduan perilaku masyarakat, gerakan sosial, serta rekomendasi bagi pemerintah daerah.
“Bahtsul Masail tidak boleh berhenti pada meja musyawarah. Hasilnya harus mampu memberikan arah bagi masyarakat dan menjadi masukan konstruktif bagi kebijakan publik yang berorientasi pada kemaslahatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abdullah mendorong LBMNU PCNU Tangsel untuk berkembang menjadi pusat kajian strategis keagamaan dan sosial yang secara berkelanjutan merespons persoalan umat.
Ia berharap kegiatan Bahtsul Masail dapat dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan jaringan pesantren dan MWCNU, disertai dokumentasi serta publikasi hasil kajian yang mudah diakses masyarakat.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan juga dinilai penting agar pandangan keagamaan dapat memberikan kontribusi nyata dalam penyelesaian persoalan sosial.
“Kita ingin LBMNU menjadi pusat lahirnya pemikiran keagamaan yang mendalam, kontekstual, dan solutif. Tradisi keilmuan pesantren harus menjadi kekuatan intelektual yang ikut membangun peradaban dan menjawab tantangan zaman,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Abdullah menegaskan bahwa semangat Hari Santri harus diwujudkan melalui penguatan tradisi keilmuan sekaligus pengabdian kepada masyarakat.
“Dahulu para ulama menggelorakan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan. Hari ini, melalui semangat Resolusi Peradaban, para santri harus hadir dengan ilmu, akhlak, dan solusi untuk kemaslahatan umat. Dari membaca kitab menuju membaca zaman, dari merumuskan hukum menuju menghadirkan kemaslahatan,” pungkasnya. (Erni)
Tidak ada komentar