Dunia Literasi Anak Tangerang Diluncurkan, Ajak Anak Kurangi Gadget dan Gemar Belajar

waktu baca 4 menit
Minggu, 27 Sep 2026 05:55 43 Redaksi

KOTA TANGERANG – Upaya meningkatkan minat baca sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget terus digalakkan di Kota Tangerang. Salah satunya melalui kegiatan Dunia Literasi Anak (Durian) yang diluncurkan di lingkungan RW 03, Kelurahan Koang Jaya, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan pendidikan masyarakat yang bertujuan menyediakan ruang positif bagi anak-anak untuk belajar, membaca, berinteraksi dan menambah wawasan pada hari libur.

Program pendidikan anak di wilayah tersebut bukan kegiatan yang baru dimulai. Kegiatan yang dikenal dengan nama Thamrin disebut telah dirintis sejak 18 Oktober 2018 dan kini memasuki usia hampir delapan tahun.

Rusmana, salah seorang pengurus, mengatakan gagasan kegiatan tersebut muncul dari keprihatinan terhadap kebiasaan anak-anak menghabiskan waktu libur dengan bermain maupun menggunakan telepon seluler.

Menurutnya, hari Minggu dapat dimanfaatkan anak-anak untuk melakukan aktivitas yang lebih produktif dengan belajar bersama sekaligus memperluas wawasan.

“Saya melihat setiap hari Minggu, daripada mereka bermain atau main HP, lebih baik belajar untuk menambah ilmu dan wawasan anak-anak,” ujar Rusmana.

Dari Belasan Anak, Kini Puluhan Peserta

Perjalanan kegiatan pendidikan tersebut dimulai secara sederhana. Pada awal pelaksanaannya, peserta hanya berkisar 10 hingga 20 anak.

Berkat konsistensi pengurus, pembina dan relawan pengajar, jumlah peserta perlahan bertambah. Dalam perkembangannya, puluhan anak mengikuti kegiatan belajar yang dilaksanakan rutin setiap hari Minggu.

Pengelola menyebut jumlah peserta saat ini berada di kisaran 80 hingga 100 anak.

Bukan sekadar memberikan tambahan pelajaran, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membantu membangun karakter, moral dan mental anak.

Para pengurus berharap anak-anak mempunyai ruang untuk bersosialisasi dan memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan tanpa terus-menerus bergantung pada gadget.

“Tujuan kita di sini supaya mereka senang datang, merindukan hari Minggu untuk belajar. Di sini mereka bergembira dan tidak hanya melihat HP,” ungkap pengelola kegiatan.

Terbuka untuk Anak dari Sejumlah RW

Program pendidikan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak yang tinggal di lingkungan RW 03.

Pengelola membuka kesempatan kepada anak-anak dari RW 01, RW 02, RW 03, RW 04 hingga RW 05 untuk mengikuti kegiatan.

Melalui bidang pendidikan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), kegiatan serupa juga mulai dirintis di wilayah RW 05. Meski jumlah pesertanya masih terbatas, pengurus berharap kegiatan tersebut terus berkembang.

Keberadaan Dunia Literasi Anak diharapkan semakin menggairahkan budaya membaca dan belajar di tengah masyarakat, terutama di tengah derasnya penggunaan perangkat digital oleh anak-anak.

Relawan Sumbangkan Waktu dan Ilmu

Di balik perkembangannya, pengelola masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya keterbatasan tenaga pengajar karena kegiatan dilakukan secara sosial dan para guru tidak mendapatkan bayaran.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir mulai bermunculan relawan yang bersedia menyumbangkan waktu dan pengetahuannya untuk mendampingi anak-anak belajar.

“Karena guru-guru ini gratis, tidak dibayar, kami sangat kesulitan mencari guru. Alhamdulillah, sekitar lima bulan terakhir ada guru-guru yang mau mendonasikan waktu dan ilmunya untuk anak-anak Tamberin,” kata pengurus.

Selain tenaga pengajar, sarana belajar juga masih menjadi perhatian. Tempat yang digunakan untuk kegiatan sebelumnya disebut memiliki kondisi yang sederhana sehingga pengurus berharap fasilitasnya dapat terus ditingkatkan agar anak-anak semakin nyaman belajar.

Selama ini, keberlangsungan kegiatan banyak ditopang oleh DKM, swadaya masyarakat dan warga yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.

Berharap Dukungan Pemerintah

Pengurus berharap pemerintah maupun pihak lainnya dapat memberikan perhatian terhadap gerakan pendidikan berbasis masyarakat tersebut.

Dukungan dinilai penting agar kegiatan yang telah bertahan hampir delapan tahun dapat terus berkembang, baik dari sisi tenaga pengajar, fasilitas maupun program pembelajaran.

“Bantuan dari pemerintah belum ada. Sementara ini paling dari DKM, sumber daya masyarakat dan orang-orang yang berjiwa sosial untuk bagaimana pendidikan ini bisa terlaksana,” ujarnya.

Peluncuran Dunia Literasi Anak (Durian) diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat literasi di kalangan anak-anak.

Lebih dari sekadar membaca buku, gerakan tersebut membawa misi menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan alternatif kegiatan positif agar waktu anak-anak tidak sepenuhnya tersita oleh gadget.

Dengan semangat gotong royong pengurus, relawan dan masyarakat, Dunia Literasi Anak diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi muda di Koang Jaya serta wilayah sekitarnya.(er)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA