Photo dari kanan kedua: Komisaris Utama Ethos Group, Mukit Hendrayatno bersama narasumber di acara peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan, Selasa (4/8/2026) di RRI Jakarta.
JAKARTA, Komisaris Utama Ethos Group, Mukit Hendrayatno, hadir dalam peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan dengan menggelar Simposium Nasional bertajuk “Urgensi Undang-Undang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial dalam Menata Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Selasa (4/8/2026) di RRI Jakarta.
Selain, Mukit Hendrayatno, Simposium juga menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka, di antaranya Dr. Agus Rizal, S.E., M.M. selaku penulis, peneliti, dan ekonom strukturalis, Dr. Ignatius Hendrasmo, M.A. selaku Direktur RRI; Prof. Didin S. Damanhuri selaku Guru Besar Ekonomi Politik IPB; Prof. Yudhie Haryono, Ph.D. selaku CEO Nusantara Center; serta Dedi Setiadi, S.Kom., M.M. sebagai penulis, peneliti, dan dosen Universitas MH Thamrin.
Kegiatan ini menjadi ruang intelektual yang mempertemukan akademisi, ekonom, peneliti, pelaku usaha, dan insan media untuk membahas arah pembangunan ekonomi Indonesia yang berlandaskan konstitusi, berpihak pada kepentingan nasional, serta berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Dalam kesempatan tersebut, Mukit Hendrayatno yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Ethos Group Kreatif Indonesia—perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran digital dan industri kreatif—menyampaikan bahwa pemikiran besar Soemitro Djojohadikusumo tidak boleh berhenti sebagai wacana, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata.
“Buku dan simposium ini menghadirkan pemikiran yang harus kita realisasikan. Kalau hanya menjadi pemikiran tanpa direalisasikan, tentu tidak akan memberikan manfaat. Saya melihat pemikiran beliau mengenai *infant industry*, pemerataan pembangunan, serta keyakinan bahwa negara-negara dunia ketiga tidak mungkin maju tanpa industrialisasi, di samping penguatan koperasi dan sektor-sektor strategis lainnya, merupakan gagasan yang sangat penting,” ujar Mukit.
Ia menambahkan bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan gagasan-gagasan tersebut menjadi gerakan yang memberikan dampak nyata bagi bangsa.
“Kita sebagai generasi hari ini harus berusaha merealisasikannya. Kita mengetahui bahwa Universitas Nusantara terus menggagas dan mendorong pemikiran ini menjadi sebuah gerakan yang memiliki *impact* nyata terhadap perkembangan pemikiran dan realitas pembangunan bangsa. Harapan saya, pemikiran Pak Soemitro benar-benar dapat terealisasi untuk Indonesia,” lanjutnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Guru Besar Ekonomi Politik IPB, Prof. Didin S. Damanhuri, menegaskan bahwa pemikiran Soemitro Djojohadikusumo masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan ekonomi global saat ini.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan keberanian untuk membangun sistem ekonomi yang berdaulat, berkeadilan, serta tidak bergantung pada kekuatan ekonomi asing.
Ia menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud apabila bangsa ini hanya menjadi pasar bagi kepentingan global. Oleh karena itu, diperlukan keberpihakan nyata melalui regulasi yang mampu memperkuat industri nasional, melindungi sumber daya strategis, serta memastikan hasil pembangunan dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia.
Peluncuran buku dan simposium nasional ini diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat kemandirian ekonomi nasional sebagaimana dicita-citakan oleh Prof. Soemitro Djojohadikusumo, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan ekonomi yang berpihak pada kepentingan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.*
(NK)
No Comments