Ketua Umum KPUN Alvino : Investor Asing Masuk, Harga Telur Ambruk: Peternak Rakyat Minta Dukungan Kemendagri 

3 minutes reading
Friday, 8 May 2026 14:42 10 edy

JAKARTA,  – Gelombang investasi besar di sektor peternakan unggas nasional memicu kegelisahan peternak rakyat. Di tengah harga telur yang terus merosot, peternak kecil kini menghadapi ancaman baru: masuknya investor raksasa, termasuk dari China, yang dinilai berpotensi mempersempit ruang usaha peternakan mandiri.

Keresahan itu mengemuka dalam forum AGRIMAT yang digelar Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) di NICE PIK 2, Jakarta. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi peternak rakyat untuk membahas persoalan transparansi data produksi, distribusi DOC (day old chick/bibit ayam), hingga arah kebijakan pemerintah terhadap investasi di sektor peternakan.

Ketua Umum KPUN, Alvino Antonio, menegaskan bahwa acara tersebut sengaja menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah agar persoalan peternak bisa dibahas secara terbuka dan menghasilkan langkah konkret.

“Kenapa kami sengaja mengundang Pak Widodo, Pak Samsul Widodo, supaya diskusinya menarik. Kalau nggak dibenturkan begitu, nggak asik. Kenapa KPUN menginisiasi acara hari ini? Karena harapan kami ke depannya ada solusi nyata,” ujar Alvino dalam sambutannya.

Ia mengatakan, peternak rakyat tidak menolak investasi maupun modernisasi industri peternakan. Namun, pemerintah diminta tidak membiarkan investor besar justru menjadi pesaing yang mematikan usaha rakyat.

“Kami itu tidak menolak investor siapapun. Justru kalau memang belum perlu, ya kami dulu dilibatkan. Kalau memang harus mendatangkan investor, ya bagaimana caranya bisa berkolaborasi dengan kami yang sudah ada, jadi jangan menciptakan kompetitor,” tegasnya.

Alvino juga meminta dukungan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa agar forum tersebut tidak berhenti sebatas diskusi.

“Jangan sampai program pemerintah itu berkelanjutan hanya di tengah jalan atau menguap. Kami berharap minggu depan bisa dipanggil Kementerian Dalam Negeri untuk merumuskan langkah konkret,” katanya.

Menurut Alvino, kepercayaan peternak terhadap pemerintah mulai menurun karena berbagai persoalan yang dinilai tak kunjung diselesaikan.

“Hari ini kami bersatu karena ingin ada hasil nyata. Terus terang, kepercayaan kami kepada pemerintah juga menurun karena sering di-PHP terus,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi Yuni Astuti, menyoroti pentingnya keterbukaan data populasi ayam petelur dan distribusi DOC sebagai dasar membaca kondisi pasar secara akurat.

“Kami mohon agar ada open data GPS dan distribusi DOC. Karena masalah ini sangat mengakar,” kata Yesi.

Menurutnya, ketidakjelasan data membuat peternak kesulitan memahami penyebab anjloknya harga telur di pasaran. Jika memang terjadi overpopulasi ayam, maka pemerintah dan pelaku usaha seharusnya memiliki pijakan data yang sama sebelum menambah kapasitas produksi baru.

“Kalau semuanya mengatakan sekarang sudah overpopulasi, maka tidak ada yang mengatakan kita tambah stok telur. Sekarang kan jadi lucu,” ujarnya.

Yesi menilai kondisi saat ini membingungkan bagi peternak rakyat. Di satu sisi pemerintah menyebut produksi domestik telah mencukupi kebutuhan nasional, namun di sisi lain kapasitas peternakan besar terus bertambah.

Menurutnya, keterbukaan data akan membuat seluruh pelaku industri memahami kondisi pasar sebenarnya sehingga kebijakan pemerintah maupun keputusan bisnis bisa lebih terukur.

Meski mendukung modernisasi sektor peternakan, peternak rakyat menegaskan penolakannya terhadap dominasi investor asing yang dianggap dapat mengancam kedaulatan pangan nasional.

“Kami tidak menolak modernisasi. Tetapi kami menolak investor asing masuk ke dunia peternakan. Dan juga kembalikan hak budidaya pangan ke rakyat,” tutur Yesi.

Ia menekankan bahwa keberadaan peternak rakyat harus tetap dijaga di tengah perubahan industri yang semakin dikuasai modal besar.

Forum AGRIMAT diharapkan menjadi titik awal lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada peternak kecil. Bagi para peternak rakyat, transparansi data, keberpihakan regulasi, dan persatuan antar peternak kini menjadi kunci untuk bertahan di tengah tekanan pasar dan derasnya arus investasi besar.*

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA